Istiqomah sakit hati.

ISTIQOMAH SAKIT HATI.


Aku memutuskan meninggalkan dunia pacaran yang penuh maksiat itu. Aku ingin mendektakan diri dengan allah, aku takut nyawaku diambil ketika aku sedang melakukan maksiat bersama pacar.
Aku insyaallah perawan. Tapi bukankah maksiat tidak dibatasi oleh itu. aku berzina, dengan mata, dengan hati. Aku ingin meninggalkan semua maksiat itu dengan berhenti berpacaran. Yaps, aku melakukan semuanya pertama kali dengan dia yang aku kira lelaki baik. Tapi tetap saja cinta dan nafsu adalah hal yang sangat dekat terutama ditambah godaan syetan.
Aku dengan mantan pacarku sepakat untuk menyudahi hubungan yang penuh dosa ini. kita masih belum siap untuk menikah pula, jadi kami memutuskan untuk saling meninggalkan. 
Aku tahu betul konsekuensi yang akan aku dapatkan dengan berpisah. Aku sempat berharap dia akan istiqomah memperbaiki diri, karena jujur aku hinga detik ini tidak dapat melupakannya, aku masih sering merindukannya.
Tapi keadaanku hari ini sangat kacau. Dia memilih dekat dengan perempuan lain, perempuan yg tidak lain adalah mantannya sebelum pacaran denganku. Aku tidak sanggup menjalani hari hari lagi setiap aku melihatnya kembali bahagia dengan mantannya. Aku bingung harus seperti apa, mengapa jalan taubat ini sangat berat untukku?. aku berpikir allah tidak adil, mengapa aku harus dihadapkan dengan situasi yang membuat hatiku sangat sakit, membuatku tak terima keadaan. aku tak tahu harus melakukan apa, terbesit dalam benakku untuk mengejarnya kembali, tapi terkadang akupun tak ingin kembali jauh dari allah. 
Aku benci keadaan ini, melihat dia bahagia sedangkan aku terus terusan menangis. Aku selalu ingin tahu seharusnya jalan apa yg aku ambil, sulit untukku berhenti mencintainya. 
Dengan hati yang hancur aku selalu bertanya, arah mana yang harus aku ambil. pilihan yang mana yang terbaik? apa aku sanggup melihatnya bahagia dengan perempuan lain sedangkan aku harus menjalani hari hari dengan sendiri dan sakit hati?. 
Beberapa teman menyarankanku mencari lelaki lain, pacaran lagi, tapi apa aku harus merusak niat awalku untuk menjauhi pacaran hanya karena sakit hati ini?.Adapun yang menyarankan kembail bermaksiat agar dia kembali bersama denganku. Tapi apa hanya segini perjuanganku untuk allah?
Akhirnya aku berpikir mungkin dengan istiqomah sakit hati ini aku dapat semakin dekat dengan allah, dengan menyanginya pun aku dapat istiqomah berhenti berpacaran. aku hanya dapat mencintainya dari sini, dengan cara yg berbeda dengan sakit hati, aku bisa melihatnya bahagia dan aku mencintai dengan doaku.
Aku masih menyayanginya. aku pasrah walaupun harus istiqomah sakit hati.


Komentar